Showing posts with label Kab. Grobogan. Show all posts
Showing posts with label Kab. Grobogan. Show all posts

Monday, February 10, 2014

Wisata Waduk Kedung Omdo di Grobogan


Waduk Kedung Omdo

Wisata Waduk Kedung Omdo di Grobogan
Waduk Kedung Ombomerupakan salah satu bendungan terbesar yang pernah dibangun oleh pemerintah. Waduk yang mulai dibangun pada tahun 1980 dan selesai pada tahun 1991 ini terletak di 3 (tiga) wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Grobogan. Waduk Kedung Ombo dibangun pada pertemuan Sungai Uter dan Sungai Serang yang terletak di Dukuh Kedungombo, Desa Ngrambat, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan.
Kawasan Waduk Kedung Ombo mempunyai area seluas 6.576 Ha yang terdiri dari lahan perairan seluas 2.830 Ha dan lahan daratan seluas 3.746 Ha. Pemanfaatan Waduk Kedung Ombo baru sebatas untuk irigasi, PLTA, perikanan, dan yang sekarang sedang dikembangkan adalah pengembangan potensi Waduk Kedung Ombo di bidang pariwisata. Keberadaan Waduk Kedung Ombo tidak hanya memberikan manfaat bagi tiga kabupaten yang menjadi daerah genangannya, namun juga bagi daerah-daerah lain. Sebagai contoh, daerah-daerah yang mendapatkan pelayanan irigasi dari Waduk Kedung Ombo antara lain Demak, Kudus, dan Pati. Bahkan air Waduk Kedung Ombo juga melayani sebagian kebutuhan air minum di Kota Semarang.
Di waktu yang lalu, keberadaan Waduk Kedung Ombo tidak bisa dilepaskan dari kesan negatif yang melekat padanya. Kesan negatif yang muncul akibat proses pembangunan waduk tersebut. Banyak warga masyarakat yang merasa sangat dirugikan karena rumah dan desa yang mereka huni harus ditenggelamkan untuk dijadikan daerah genangan air Waduk Kedung Ombo. Bagi mereka, Waduk Kedung Ombo merupakan cermin ketidakadilan pada masa pemerintahan Orde Baru, yang antara lain berhubungan dengan ganti rugi tanah dan pelanggaran hak asasi manusia.
Ketika itu mungkin tidak pernah terpikir di benak masyarakat bahwa pembangunan Waduk Kedung Ombo akan memberikan manfaat yang besar bagi pembangunan dan perkembangan di daerah tersebut, serta peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. Mengingat daerah di sekitar Waduk Kedung Ombo yang gersang sehingga sangat tidak mendukung bagi perekonomian masyarakat. Akibatnya, kondisi masyarakat di sekitar Waduk Kedung Ombo pada umumnya miskin.
Potensi wilayah perairan Waduk Kedung Ombo yang dapat dikembangkan untuk usaha budidaya ikan adalah seluas 2.830 Ha, sedangkan yang telah diusahakan oleh masyarakat adalah seluas 28 Ha untuk budidaya ikan nila merah, karper, gurame, dan patin. Ikan-ikan tersebut ada yang dipelihara dengan sistem keramba apung. Ikan-ikan yang dihasilkan dari Waduk Kedung Ombo sehat dan aman untuk dikonsumsi karena tidak tercemar oleh bahan atau zat yang dapat membahayakan kesehatan. Hal ini karena perairan Waduk Kedung Ombo adalah salah satu perairan yang bebas dari pencemaran limbah kimia berbahaya yang berasal dari limbah pabrik atau industri. Masyarakat bisa berbelanja ikan-ikan tersebut di pasar ikan yang berada di sekitar waduk.
Berbagai aktivitas menarik bisa dilakukan oleh para wisatawan di Waduk Kedung Ombo, antara lain menikmati keindahan panorama Waduk Kedung Ombo, memancing ikan, berbelanja di pasar ikan, dan berpetualang dengan perahu motor di pulau seluas 20 Ha yang berada di tengah waduk. Selain itu, di kawasan Waduk Kedung Ombo telah berdiri sebuah lapangan pacuan kuda “Nyi Ageng Serang” yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung yang cukup memadai. Lapangan pacuan kuda seluas ± 15 Ha dengan panjang lintasan 600 M dan lebar lintasan 14 M ini merupakan miniatur dari lapangan pacuan kuda Pulomas di Jakarta dan pernah menjadi tuan rumah untuk kejuaraan pacuan kuda tingkat nasional. Kejuaraan pacuan kuda merupakan kegiatan rutin tahunan di kawasan Waduk Kedung Ombo, yang tentu akan menjadi salah satu atraksi wisata yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.


Wisata Kubah Lumpur Bledug Kuwu Di Grobogan


Kubah Lumpur

Wisata Kubah Lumpur Bledug Kuwu Di GroboganBledug Kuwu, sebuah obyek wisata yang terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah—sekitar 91 kilometer arah tenggara Semarang. Daya tarik Bledug Kuwu adalah telaga lumpur hangat nan luas yang tidak terdapat di obyek wisata lain di Indonesia, bahkan satu-satunya di dunia. Bledug Kuwu memang tidak setenar Api Abadi Mrapen yang juga terletak di Kabupaten Grobogan, namun di kawasan ini, pengunjung bisa menikmati suguhan keajaiban alam. Danau lumpur cair dan hangat yang kelihatannya tenang, sewaktu-waktu menggelegak dan meletup seperti balon raksasa. Letupan-letupan itu terjadi secara periodik tiap 2 hingga 3 menit sekali dengan ketinggian hingga 3 meter. Namun pada saat-saat tertentu, biasanya pada waktu musim hujan, semburan lumpur itu bisa mencapai 10 meter hingga tampak sangat spektakuler. Dari pecahan gelembung lumpur raksasa yang membelah langit muncul asap putih yang disertai percikan air dan garam yang konon tingkat keasinannya lebih tinggi dari air laut.
Semula diduga munculnya gelembung lumpur itu merupakan magma bumi. Artinya, Bledug Kuwu merupakan kawah vulkanik seperti kawah yang banyak ditemukan di pegunungan Dieng, Jateng. Namun teori ini sulit dibuktikan karena letupan lumpur di Kuwu tidak panas. Kalaupun terasa hangat itu karena sengatan matahari sehingga sangat aman di pegang dengan tangan telanjang. Ada dugaan terbentuknya gelembung lumpur Bledug Kuwu karena peristiwa kimiawi antara gas bumi dengan air laut yang menghasilkan gas karbon dioksida dan sulfur dioksida. Dugaan ini diperkuat dengan munculnya bau gas yang menyengat dari tiap letupan gelembung lumpur dan sedikitnya tumbuhan yang hidup karena sifat gas tersebut yang membunuh.

Selain sebagai obyek wisata, Bledug Kuwu dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai lahan pembuatan garam. Air garam yang menyertai setiap letupan lumpur dialirkan ke dalam sebuah tempat penampungan berbentuk kolam. Dari kolam penampungan ini, air asin itu kemudian ditempatkan di dalam bilah-bilah bambu dan dijemur di bawah terik matahari. Setelah dijemur sekitar 5 hingga 6 jam, air dalam bilah bambu pun menguap habis dan tinggallah butiran garam. Selain kristal garam juga dihasilkan air bleng yang dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit kulit. 

Selamat Berkunjung Di Wisata Jawa Tengah Indonesia ^_^

Wisata Api Abadi Grobogan


API ABADI

Wisata Api Abadi GroboganSiapa sangka kalau Indonesia memiliki api abadi yang tidak pernah padam. Uniknya, walaupun hujan turun, api yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ini tidak akan padam.
Api tersebut dikenal dengan nama Api Abadi Merapen, sebuah kompleks yang terletak di Desa Manggarmas, Godong, Grobogan, Jawa Tengah, atau sekitar 26 km dari Kota Purwodadi.
Api yang sering digunakan sebagai sumber api berbagai acara olahraga di Tanah Air ini merupakan fenomena geologi gas alam. Gas alam tersebut keluar ke permukaan tanah dan kemudian tersulut oleh api. Hal tersebut lah yang membuat api tidak pernah padam walaupun hujan turun.
Selain sebagai sumber api untuk acara-acara olahraga, Api Abadi Merapen juga digunakan sebagai sumber api untuk upacara hari raya umat Budha, yaitu Waisak. Para biksu perwakilan dari berbagai Sangha mengambil Api Abadi Merapen. Dari Grobogan, api suci dibawa ke Candi Borobudur yang menjadi tempat pusat peringatan Hari Suci Waisak di Indonesia.
Untuk bisa masuk ke Kompleks Api Abadi Merapen, Anda hanya perlu membayar Rp 500. Sayangnya, sebagai sebuah obyek wisata yang berbasis legenda, kondisi Api Abadi Merapen tak sebanding dengan nama besar yang disandangnya. Lokasinya juga kurang terawat.
Selain api abadi, Grobogan juga memiliki keunikan lainnya. Tidak jauh dari lokasi ini, terdapat sebuah batu besar yang dikenal dengan nama Batu Bobot. Batu tersebut diyakini mampu mengabulkan semua permintaan siapa saja yang bisa mengangkat batu tersebut dengan posisi duduk.
Batu yang memiliki berat kurang lebih 20 kg ini sangat dikeramatkan oleh warga setempat. Jelas saja, karena batu ini merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga pada abad ke-15.
Di samping Batu Bobot, di lokasi wisata Api Abadi Merapen juga terdapat kolam kecil yang dikenal dengan nama Sendang Dudo. Kolam tersebut berisi air berwarna hijau dengan gelembung-gelembung air di tengahnya. Meskipun tampak seperti mendidih, namun ternyata air tersebut tidak panas karena gelembung-gelembung udara tersebut berasal dari gas yang berada dalam tanah. 
Letupan gas atau gelembung-gelembung air itu akan menyala bila terkena api. Mungkin gas tersebut  merupakan gas yang sama dengan yang ada pada Api Abadi Merapen. Dari hasil penelitian di laboratorium, terbukti air di Sendang Dudo mengandung banyak mineral mulai dari kalsium hingga magnesium. 
Karena kaya kandungan mineral air, Sendang Dudo kerap digunakan untuk mengobati berbagai penyakit di kulit, seperti gatal-gatal atau eksim. Tak heran jika banyak wisatawan yang datang untuk mengobati beragam penyakit.

Selamat berkunjung ke wisata jawa tengah indonesia ^_^